Jalan-jalan Ke Semarang (Part 2)

Day 2!

Ini cerita tentang hari kedua gue dan temen-temen berwisata ke Semarang.

Ini nih penampilan soto enak plus tempe gorengnya. Warung Soto Bokoran yang dari luar tampak sepi, ternyata dalamnya ngantriiii

Ini nih penampilan soto enak plus tempe gorengnya. Warung Soto Bokoran yang dari luar tampak sepi, ternyata dalamnya ngantriiii

Hari Minggu kami ini dimulai pukul 9 pagi dengan sarapan Soto Bokoran. Yup, warung soto ini emang berada di Jalan Bokoran, deket banget sama tempat krupuk Mother Chan’s kemarin, hehehe. Memang hanya warung soto biasa, tapiiii…. Begitu kami sampai di sana, ngantrinya udah kaya ngantri sembako. Bejubel! Mobil-mobil berderet di sepanjang jalan kecil ini demi mengantri soto khas Semarang ini. Gue dan temen-temen gue terpaksa ngantri dulu sekitar 10-15 menit nunggu ada bangku kosong. Warung ini kecil tapi lumayan banyak tempat duduk di dalamnya, tapi tetep aja semuanya penuuhh banget. Padahal baru jam 9 pagi. Nggak sia-sia sih ngantri soto Bokoran ini. Emang enak banget sih! Dan khasnya soto Semarang ini adalah makanan pelengkap soto yaitu gorengan seperti tahu, tempe, dan perkedel yang disiapkan di wadah-wadah terpisah. Bisa kalap comotin semuanya hehehe…

gerbang masuk ke kompleks Klenteng Agung Sam Poo Kong

gerbang masuk ke kompleks Klenteng Agung Sam Poo Kong

Setelah perut kenyang, kami segera menuju tempat tujuan wisata hari ini, yaitu Klenteng Agung Sam Poo Kong. Kalau berwisata ke Semarang udah pasti dooong pengen dateng ke tempat ngetop ini. Klenteng Agung Sam Poo Kong ini adalah sebuah kompleks klenteng atau kuil yang dibangun oleh Laksamana Zheng He (Cheng Ho) dari Cina di tahun 1400an. Berarti kompleks klenteng ini umurnya udah 600 tahunan! Klenteng ini ngetop banget karena nggak cuma ada satu klenteng di dalamnya, dan Laksamana Zheng he ini juga ngetop karena dia termasuk salah satu penganut Muslim yang membantu penyebaran agama Islam. Di halaman kompleks Sam Poo Kong ini ada patung sang laksamana yang terbuat dari perunggu, gedeeee banget.

Gue berada di bawah patung Zheng He super gede dengan latar belakang salah satu klenteng

Gue berada di bawah patung Zheng He super gede dengan latar belakang salah satu klenteng

Ada satu aula klenteng yang bisa kita masukin. Tapi untuk klenteng-klentengnya sendiri – namanya juga tempat peribadatan – nggak bisa sembarangan kita masuk. Kalau nggak untuk bener-bener sembahyang, pengunjung musti bayar untuk masuk ke klenteng dengan syarat nggak foto-foto dan nggak mengganggu yang sembahyang. Kebetulan dua orang temen gue, Vero dan Virgo menyempatkan diri untuk masuk ke klenteng dan sembahyang di sana. Jadi gue, Monik, dan Wowo nunggu mereka berdua selesai sembahyang dengan jalan-jalan ke sekeliling kompleks sambil foto-foto tentunya. Tapi dengan lihat-lihat di sekitaran kompleks dari depannya aja pasti udah puas kok. Soalnya selain ada pohon-pohon rindang dengan bangku-bangku yang teduh untuk beristirahat, di kompleks klenteng ini juga ada patung-patung dewa-dewa kuno yang bagus-bagus. Aulanya biasa dipakai untuk acara-acara festival klenteng, tapi selama ga ada acara sih bisa kita masukin dan foto-foto. Walaupun panas terik di Semarang saat itu, tapi menyenangkan juga ke Sam Poo Kong.
Untung bawa kacamata item, hehehe. Paling tangan agak belang nih karena nggak pake sunblock. Oh iya, ada toko yang jual peralatan sembahyang dan suvenir di dalam area kompleks, juga buku petunjuk mengenai Sam Poo Kong. Gue sempet beli buku itu, jadi lumayan buat nambah wawasan tentang sejarah klenteng ini. Nanti gue bakal ceritain tersendiri deh tentang kompleks klenteng ini.

Setelah puas keliling-keliling Sam Poo Kong, perjalanan kami lanjutin lagi. Kali ini kita melipir keluar dari Semarang, yaitu menuju ke Ambarawa. Yes, kota ini cuma sekitar 45-60 menit dari Semarang, apalagi sekarang udah ada jalan tol. Sebenernya Ambarawa ini termasuk di kabupaten Semarang sih. Ngapain ke Ambarawa? Tujuan kita sih mau ke Musem Kereta Ambarawa. Museum ini keren banget dengan kereta-kereta kuno dan sejarahnya. Tapi begitu kita nyampe di Ambarawa, lho kok…. museumnya tutup! Jreng jreeeng. Ternyata museum kereta ini sedang dalam renovasi, jadi ditutup untuk umum. Nggak tanggung-tanggung pula, udah lebih dari 6 bulan ditutupnya! Yaahh… udah jauh-jauh sampai Ambarawa. Gimana dong.

Salah satu sisi reruntuhan Benteng Pendem yang masih tampak anggun

Salah satu sisi reruntuhan Benteng Pendem yang masih tampak anggun

Untung gue sempet baca-baca blog nya ko Halim – travel blogger yang gue kenal pas jalan-jalan ke Solo Juni lalu – tentang wisata ke Benteng Pendem – alias Benteng Willem I – di Ambarawa. Nah… Jadinya kita ke Benteng Pendem aja! Setelah tanya sana sini (termasuk mengikuti tulisan blog ko Halim) akhirnya sampai juga gue dan temen-temen di Benteng Pendem. Benteng ini sebagian masih dipake sebagai Lembaga Pemasyarakatan,sebagian lagi udah jadi puing dan sebagian jadi tempat tinggal penduduk dan sarang burung walet. Tapi arsitektur kuno benteng ini masih keren banget, jadi lumayan puas jalan-jalan dan foto-foto ke sekeliling reruntuhan benteng ini.

Untung bawa tripod, jadi kami bisa foto grup di Benteng Pendem ini. Yay! :D

Untung bawa tripod, jadi kami bisa foto grup di Benteng Pendem ini. Yay! ๐Ÿ˜€

Sesi foto-foto di sekeliling benteng Pendem sudah cukup, saatnya kembali ke Semarang lagi nih. Di tengah perjalanan pulang kami sempet mampir makan di rumah makan Mang Engking di daerah Ungaran. Hahahaha jauh-jauh ke Semarang, makannya makanan Sunda juga yah. Abisnya udah laper banget, udah jam makan siang dan udah ga tau mau makan apa di daerah luar Semarang. Tapi enak juga kok, apalagi supir kamu juga memberitahu bahwa di dalam kompleks rumah makan ini ada harimau putih yang dipelihara. Waaw… sempet keliatan sih harimaunya, tapi lagi bobo juga jadi ga mau deket-deket, hehehe.

Icon kota tua Semarang, Gereja Blenduk

Icon kota tua Semarang, Gereja Blenduk

Setelah makan siang, menjelang sore kami sampai ke dalam kota Semarang. Masih dalam semangat mencari objek foto jadul, kali ini tujuan kami adalah ke kawasan kota tua Semarang. Nah… Kali ini asik banget nih jalan-jalannya. Kawasan kota tua ini benar-benar terawat dan bersih, selain itu juga sepi. Jadi kami nyaman berjalan kaki kesana kemari melihat-lihat bangunan-bangunan jaman dulu, yang sebagian masih dipergunakan sebagai rumah penduduk dan gedung perkantoran. Ada juga toko barang antik di pinggir jalan kota tua. Dan tentu saja, ikon kota tua Semarang yang masih berdiri dengan megahnya, yaitu Gereja Blenduk, alias gereja Kristen Imanuel. Di samping gereja ini ada taman yang memang dibuat untuk beristirahat dan rekreasi, jadi kawasan ini kesannya asri sekali. Ada beberapa penjual minuman dan juga jasa pengantar keliling kota tua dengan skuter yang ramah dan menceritakan banyak tempat-tempat bersejarah di Semarang. Rasanya menyenangkan sekali jalan-jalan di tempat ini, karena menurut gue sih jauh lebih terpelihara dibandingkan kawasan kota tua yang ada di kota-kota lain. Jalan kaki pun nggak kerasa capenya kok. Tapi mungkin lain kali seru juga yah kalo keliling-keliling naik skuter atau becak, hehehe.

Cape muter-muter di kota tua, sekarang mending istirahat dulu deh sebelum makan malam. Udah sore banget sih. Jadi kami memutuskan untuk kembali ke Toko Oen. Hehehehe tempat nongkrong favorit deh. Lagipula Vero kan belum sempet ke sini di hari pertama. Dan kami pun memesan es krim yang sama hahaha. Tapi nggak makan yang lain-lain deh, karena hari ini tampaknya cukup cerah jadi kemungkinan bisa makan malam di Semawis seperti rencana kemarin.

Ini pasar malam sekaligus pusat jajanan Semarang Semawis, yang hanya ada di akhir pekan.

Ini pasar malam sekaligus pusat jajanan Semarang Semawis, yang hanya ada di akhir pekan.

Bener juga, malam itu cukup cerah jadi akhirnyaaa kesampaian juga cita-cita ke Semawis. Semawis itu adalah pasar malam tempat pusat jajanan Semarang yang cuma ada tiap weekend, alias Jumat Sabtu Minggu. Lokasinya ada di kawasan Pecinan Semarang. Namanya juga pasar malam, jadi sepanjang jalan isinya warung-warung tenda yang jualan beraneka macam. Tapi paling banyak tentunya makanan. Kayanya semua jenis makanan ada di sini deh. Asik banget, sampe bingung milihnya, hehehe…. Mulai dari makanan ringan sampai berat, halal dan non-halal semua ada. Monik dan Vero langsung memesan Nasi Goreng Babat yang merupakan nasi goreng khas Semarang. Gue dan Wowo menikmati cakue dan bolang-baling (semacam kue bantal) yang gede-gedeee dan nggak abis-abis, hehehe. Nggak usah bingung makannya,karena di sepanjang pinggir jalan disediakan meja-meja dan kursi-kursi untuk menyantap makanan sambil menikmati suasanya Semawis. Pas banget malam itu kami duduk di depan salah satu toko yang nyetel lagu-lagu oldies. Sang pemilik toko, engkong (kakek) yang berumur sekitar 70an, masih bersemangat berkaraoke menyanyikan lagu-lagu oldies yang diputar oleh sang nenek sambil bergoyang. Hihihi seru banget! Beberapa pengunjung dan keluarga si engkong juga ikut menikmati hiburan sambil ikut bernanyi atau tepuk tangan. Suasana di Semawis ini asik banget, nyaman dan seperti di lingkungan rumah sendiri. Sayangnya nggak lama udah mulai gerimis, jadi kami nggak lama-lama di Semawis dan memutuskan untuk kembali ke hotel aja.

Wajib nyicipin Nasi Ayam di depan BCA Mataram ini nih!

Wajib nyicipin Nasi Ayam di depan BCA Mataram ini nih!

Eh dalam perjalanan menuju hotel, gue dan mamanya Monik sebenernya masih agak laper, hehehe. Jadi tante memutuskan untuk mampir di warung Nasi Ayam Bu Sandinah di depan BCA Mataram. Di sebelahnya juga ada warung Bakmi Jowo Pak Di. Hihihi jadi gue dan tante makan nasi ayam dan bakmi jowo, sementara temen-temen gue yang lain nungguin sambil mulai ngomel karena takut keujanan ๐Ÿ˜› Tapi apa artinya ke Semarang kalo nggak makan nasi ayam! Apalagi nasi ayam depan BCA Mataram ini termasuk salah satu lokasi nasi ayam terenak di Semarang. Murah pula. Sayangnya temen-temen gue udah pada kekenyangan jajan di Semawis tadi. Tapi jangan kawatir, besok tante bakal ngajakin sarapan di tempat nasi ayam yang nggak kalah enaknya kok.

Jadilah malam itu kami kembali ke hotel dengan perut kekenyangan. Badan pun capek karena udah muter-muter seharian. Tapi puas dan seneng banget rasanya, karena semua tempat yang kita datengin menyenangkan. yah, sayang sih museum keretanya tutup. Tapi berarti ada alasan lagi buat ke Ambarawa kalo museumnya udah selesai direnovasi yah, hehehe. Malem itu kami masih ngobrol-ngobrol di kamar hotel sambil menikmati pisang plenet khas Semarang yang tadi sempet dibeli di Semawis. Tapi berhubung besok musti bangun pagi, jadi sekitar tengah malam kita akhirnya beneran istirahat dan tidur. Besok masih bakal jalan-jalan lagi! ๐Ÿ˜€

Next : hari terakhir jalan-jalan di Semarang, Day 3!

5 Comments

  1. Pingback: Jalan-Jalan Ke Semarang (Part 1) | Ratri Adityarani

  2. Halim Santoso

    Keren kan bangunan benteng Willem I nya? Jangan katakan nggak foto narsis pose ala model majalah di sana hehehe ๐Ÿ™‚

    • Ratri

      iyaaahhh kereeenn pas banget ama temen2ku yang hobinya motret tekstur tembok hehehe…. Tentu doong poje2 narsis ala pidio klip di sana sini hihihi….. Aku dateng pas hari Minggu, jadi pas di lapas lagi ada kunjungan keluarga… di sisi sebelah sono rameee… di sisi sebelah sini sepiii cuma suara burung walet hehehe ๐Ÿ˜€

  3. Monika Suryadi

    Soto Bokoran.. yg sebenernya dipegiin sebagai pengganti Soto Kepodang yang nggak ketemu (karena ternyata udah RIP bapak yg punya) ._. Hiks hiks

    • Ratri

      LOL iya kita muter2 nyariin soto Kepodang sampe blusukan, ya ga bakal nemu lha wong bapake aja udah ndak ada XD

Leave a Reply

Recent Post